Pernahkah suatu ketika kamu bercermin, memegang lipatan-lipatan di perut dan berkata, “Aku gemuk ya?”

Atau saat berpelukan dengan sahabat yang lama tak berjumpa, tiba-tiba dia berujar, “Kok kamu kurusan, sih?”

Contoh-contoh di atas seringkali dapat menjadi indikator ideal tidaknya berat badan kita meskipun sifatnya subjektif. Akan tetapi, adakah cara untuk menilai kurus gemuknya kita secara lebih objektif?

Secara internasional, indikator yang paling umum digunakan untuk mengetahui apakah berat badan seseorang tergolong normal adalah indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI). Menurut World Health Organization (WHO), IMT didefinisikan sebagai pembagian berat badan dalam kilogram oleh kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2). Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki berat badan 52 kg dan tinggi badan 162, maka IMT-nya adalah 19,8.

Lalu bagaimana cara menerjemahkan nilai indeks tersebut? WHO telah menetapkan suatu cut off point atau ambang batas dalam pembacaan nilai-nilai IMT yang kemudian dirujuk oleh pemerintah dengan menyesuaikan kondisi masyarakat Indonesia. Di bawah ini adalah tabel ambang batas IMT untuk masyarakat Indonesia.

Klasifikasi IMT Kategori
Berat badan kurang
Sangat kurus < 17,0 Kekurangan berat badan tingkat berat
Kurus 17,0 – 18,4 Kekurangan berat badan tingkat ringan
Normal 18,5 – 24,9
Kelebihan berat badan
Overweight 25,0 – 27,0 Kelebihan berat badan tingkat ringan
Obese > 27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat

Diadaptasi dari: Pedoman Gizi Seimbang, 2014

Penilaian IMT tergolong sederhana, mudah, dan murah karena hanya memerlukan data berat dan tinggi badan yang relatif mudah diukur. Nilai IMT juga tidak dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin. Akan tetapi, rumus IMT di atas memiliki kelemahan yaitu hanya dapat digunakan untuk orang dewasa di atas 18 tahun. IMT juga tidak akurat jika digunakan oleh populasi tertentu seperti atlet, orang-orang yang terbiasa berlatih beban, atau ibu hamil karena komposisi tubuh yang berbeda dengan rata-rata orang secara umum.

Orang yang memiliki IMT normal cenderung memiliki resiko terkena penyakit menular dan tidak menular lebih kecil dibandingkan orang dengan IMT kurang atau lebih. Tentu saja IMT bukan faktor tunggal karena banyak faktor-faktor lain yang juga menentukan tingkat kesehatan seseorang. Orang-orang dengan IMT di bawah atau di atas normal dianjurkan untuk berusaha menaikkan atau menurunkan berat badan. Demikian pula orang-orang ber-IMT yang mendekati ambang batas perlu berhati-hati menjaga berat badan agar tidak naik atau turun.

Jadi sekarang tentu sudah bisa menilai sendiri, apakah kamu kurus, gemuk, atau normal?

@Yustiani

 

 

 

Kurus, Gemuk, atau Normal?

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *